“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”,
‘kemudian beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya”, [HR Bukhori 4998].
Al-Qur’an telah menegaskan, anak yatim adalah sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan.
“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,” (QS. Al-Baqarah [2]: 220).
Disebut yatim, kalau anak tersebut belum baligh. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak lagi disebut yatim anak yang sudah bermimpi (baligh)”, (HR. Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib). (Sunan Abi Daud, Kitab Al-Washaya No. 2489).
Merawat anak yatim adalah sebuah kewajiban dari kerabat pihak ayah.
Mengutip pernyataan dari dalam buku berjudul ‘Dahsyatnya Doa Anak Yatim’ oleh M. Khallurrahman Al Mahfani tentang keutamaan mencintai anak yatim, yaitu: