Rembuk Merah Putih di Bengkulu: Tangkal Radikalisme Lewat Pendidikan dan Cinta Tanah Air
Rembuk Merah Putih di Bengkulu: Tangkal Radikalisme Lewat Pendidikan dan Cinta Tanah Air--
RADAR BENGKULU – Ancaman terorisme dan radikalisme tak mengenal batas wilayah. Bahkan Provinsi Bengkulu yang selama ini dikenal sebagai daerah religius dan damai, ternyata masuk peringkat keempat secara nasional dalam tingkat paparan paham terorisme pada tahun 2024. Fakta ini tentu mengejutkan, sekaligus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bergerak cepat.
Sebagai respon atas situasi tersebut, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu menggelar kegiatan bertajuk Rembuk Merah Putih, Rabu (9/7), bertempat di Aula Prof. Djaman Nur, Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFAS) Bengkulu. Tema yang diangkat: "Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air."
Acara ini melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari mahasiswa, dosen, insan media, tokoh pemuda, hingga komunitas sosial. Semua disatukan oleh satu tujuan: mencegah berkembangnya paham radikal yang berujung pada tindakan terorisme.
“Ini bukan hanya acara seremonial. Ini adalah bagian dari ikhtiar besar menyelamatkan generasi muda dari paparan paham yang bisa merusak masa depan bangsa,” ujar Wibowo Susilo, Sekretaris FKPT Provinsi Bengkulu, dalam sambutannya.
Wibowo mengungkapkan, berdasarkan data nasional tahun 2024, Bengkulu menduduki peringkat ke-4 tertinggi sebagai provinsi yang warganya terpapar paham radikal dan terorisme. Capaian yang tentu bukan prestasi, melainkan peringatan keras.
BACA JUGA:Makan Bergizi Gratis Sasar 363 Ribu Siswa, Gubernur Helmi Hasan Libatkan Petani Lokal
BACA JUGA:Penuhi Hak Warga Binaan, Lapas Arga Makmur Berikan Layanan Kunjungan Anggota Keluarga
“Karena itulah, forum seperti ini kami harapkan menjadi ruang edukasi yang strategis. Diskusi-diskusi kebangsaan harus digalakkan agar tidak ada ruang kosong yang diisi oleh narasi kebencian dan intoleransi,” katanya.
Rembuk Merah Putih ini juga menjadi bagian dari program sinergis antara FKPT dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kegiatan ini bukan hanya berlangsung di kampus, tetapi juga menyasar sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan media massa.
Maira Himadhani, Sub Koordinator Partisipasi Masyarakat BNPT, menekankan pentingnya pendekatan edukatif dalam melawan radikalisme. Menurutnya, perang terhadap terorisme tidak bisa hanya dilakukan dengan pendekatan represif, tetapi justru harus dimulai dari ruang-ruang dialog.
“Diskusi, pendidikan, sosialisasi, hingga gerakan komunitas sangat efektif untuk membentengi masyarakat dari pengaruh buruk paham radikal,” ungkap Maira.
Ia juga mengungkapkan, saat ini terdeteksi ada empat kelompok radikal aktif di Provinsi Bengkulu yang terus dipantau oleh BNPT. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus diajak waspada tanpa menciptakan ketakutan yang berlebihan.
“Kita harus tenang tapi waspada. Melibatkan masyarakat dalam gerakan pencegahan jauh lebih berdampak daripada sekadar menunggu penindakan hukum,” tegasnya.
BACA JUGA:Walikota Ajak Masyarakat Bengkulu Galakkan Program Bengkulu BISA