Meneladani 4 Sifat Nabi Rasulullah
H. Mahmuda, S. Ag., M.H.I--
Khatib : Al ustadz H. Mahmuda, S. Ag., M.H.I
Disampaikan di : Masjid Jami' Babussalam, Jalan P.Natadirja KM.8 Kelurahan Jalan Gedang Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu
Sidang jamaah Jumat rahimakumullah
Teladan yang paling ideal untuk dijadikan contoh hidup di dunia adalah Nabi Muhammad SAW, utusan Allah SWT terakhir. Sebagai pamungkas para Nabi yang sifat-sifatnya sangat mulia. Bahkan Allah memuji kemuliaan dan keluhuran etikanya dalam menyebarkan ajaran Islam di muka bumi.
Pada momen pelaksaan shalat Jumat hari ini, marilah kita renungkan sifat mulia Rasulullah untuk kita teladani dan kita tiru bersama dengan harapan semoga kita bersama bisa menjadi umat yang dibanggakan olehNya. Sehingga bisa berada di bawah naungan syafa’atnya kelak di hari kiamat. Aamiin.
Salah satu sifat mulia Rasulullah Adalah sebagaimana tergambar dalam surah At Taubah ayat 128:
Artinya: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
Ada 4 sifat dan karakter yang terdapat pada ayat ini. Yaitu 1) Azizun. 2) Harisun. 3) Roufun dan 4) Rohimun.
Sidang jamaah Jumat rahimakumullah
Pertama, Azizun (Berat terasa olehnya). Maksudnya bahwa kesengsaraan, kesusahan, kesedihan, dan hal hal pahit lainnya yang dirasakan umat Islam juga dirasakan oleh Nabi Muhammad. Ia merasa semua itu sebelum dirasakan oleh umatnya. Bahkan semua waktu-waktu yang ia miliki hanya digunakan untuk memikir umatnya.
Tidak hanya di dunia, Rasulullah juga selalu disibukkan dengan urusan-urusan umatnya ketika di akhirat.
Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitab tafsir Wa Khawathir juz 1. Ketika umat manusia dikumpulkan di
mahsyar (tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan dari kubur, saat itu , terik matahari begitu panas, api neraka berkobar, hisab amal kebaiKan dan keburukan tak kunjung selesai.
Di saatt yang bersamaan, semua dalam keadaan yang sangat bingung. Satu persatu manusia meminta pertolongan kepada para Nabi, namun mereka enggan untuk memberi pertolongan. Mereka justru sibuk dengan urusan nasibnya sendiri. Akan tetapi, hal itu tidak dengan Rasulullah. Di tengah panasnya