Harga Buah Pepaya Melonjak Tajam
Buah Pepaya--
RADAR BENGKULU - Harga pepaya di Pasar Panorama mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa minggu terakhir, membuat para pedagang pengecer lokal kesulitan memperoleh buah berkualitas dengan harga terjangkau. Lonjakan harga ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling berkaitan.
Penyebab pertama adalah kondisi di daerah Kepahiang, salah satu pemasok pepaya utama, dimana para petani saat ini sedang sibuk dengan musim panen kopi. Hal ini menyebabkan produksi pepaya menjadi terbengkalai dan pasokan ke pasar berkurang drastis.
"Kalau musim kopi seperti sekarang, pepaya memang jadi anak tiri. Petani lebih fokus ke kopi karena harganya lebih menguntungkan," ungkap Suryadi, pedagang buah di Pasar Panorama saat ditemui RADAR BENGKULU, Jumat, 25 Juli 2025.
Para petani di Kepahiang mengakui bahwa mereka harus membagi perhatian antara kedua komoditas tersebut. Ketika musim panen kopi tiba, tenaga kerja dan waktu yang tersedia lebih banyak dialokasikan untuk kopi, sehingga perawatan dan panen pepaya menjadi terabaikan.
BACA JUGA:KMP Kota Bengkulu Tetap Kokoh Meski Telah Ada yang Tumbang
BACA JUGA:Beberapa Jalan Perumahan Mulai Memasuki Tahap Pengerjaan Oleh PUPR
Faktor kedua yang memperparah situasi adalah masuknya para tengkulak dari Jawa yang menawarkan harga pembelian jauh lebih tinggi kepada petani di daerah Lahat. Para tengkulak ini berani membeli pepaya langsung dari petani dengan harga Rp 4.000-5.000 per kilogram. Sementara pedagang pengecer lokal biasanya hanya mampu membeli dengan harga Rp 2.000-2.500 per kilogram.
"Ini yang bikin kita susah. Mereka dari Jawa datang langsung ke petani. Bayar cash dengan harga dua kali lipat dari harga normal. Mereka wajar ngambil harga mahal, jual di sana lebih mahal lagi. Mana mau petani jual ke kita," keluh Suryadi, pedagang buah yang telah menjalani usaha selama 15 tahun.
Kondisi ini menciptakan kompetisi yang tidak seimbang bagi pedagang lokal. Dengan modal terbatas, mereka tidak mampu bersaing dengan harga yang ditawarkan tengkulak luar daerah tersebut.
Selain itu, kualitas pepaya yang tersedia di pasar lokal juga menurun. Karena, buah-buah berkualitas terbaik telah dibeli oleh tengkulak untuk dikirim ke luar daerah.
Para pedagang lokal berharap situasi ini dapat membaik ketika musim panen kopi berakhir. "Kalau sudah bukan musim kopi, biasanya pepaya jadi lebih banyak dan harganya bisa turun lagi," tambahnya.
Namun, masalah persaingan dengan tengkulak luar daerah memerlukan solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan adanya regulasi atau dukungan modal bagi pedagang lokal agar dapat bersaing secara sehat dalam memperoleh pasokan langsung dari petani.