HWW

HWW-Ist-

Hebatnya IGD di sana tidak dijaga oleh dokter muda. Atau dokter yang baru lulus. Yang datang ke IGD adalah pasien yang sakitnya tidak sederhana. Yang sederhana sudah diselesaikan di rumah masing-masing.

Maka dokter jaga di IGD-nya Tulungagung adalah dokter spesialis. Yakni spesialis kedaruratan. Sudah agak lama ada program studi spesialis kedaruratan di banyak fakultas kedokteran

Sistem aplikasi itu mengatur sampai ke pengadaan obatnya. Maka sulit diintervensi oleh kepentingan politik lokal.

Aplikasi itu juga terhubung ke Puskesmas di setiap kecamatan. Waktu jadi dokter teladan tingkat nasional dulu ia sudah menerapkan itu di Puskesmas di kabupaten Kerinci, Jambi.

Ia jarang terlihat di Puskesmas. Ia datang ke masyarakat: menerapkan penanganan kesehatan preventif. Orang yang sakit ditangani di rumah-rumah mereka.

"Puskesmas tidak boleh bangga karena banyak didatangi masyarakat. Itu berarti dokternya gagal menjalankan misi," katanya. Tenaga di Puskesmas harus lebih banyak di lapangan. Menemui dan mendata penduduk dengan segala penyakit mereka.

Supriyanto lulus dokter dari Universitas Brawijaya, Malang. Waktu itu dokter yang baru lulus wajib kerja di daerah pedalaman. Ia dapat tugas di Kerinci.

Supriyanto bangga dengan kewajiban mengabdi di pedalaman seperti itu. Ia merasa karakter dan kepribadian seorang dokter terbentuk di situ.

Di Kerinci, sebagai dokter teladan, ia bisa memilih dua hadiah dari beberapa pilihan yang diberikan: boleh menempuh spesialis, menjadi pegawai negeri, mau pilih ditempatkan di mana atau naik haji.

Supriyanto memilih dua: menjadi pegawai negeri dan mengambil spesialis. Awalnya ingin menjadi spesialis kandungan. Lalu batal. Ia pilih pulang kampung ke Tulungagung. Bekerja sebagai pegawai negeri di RSUD setempat.

Ia tidak memilih hadiah naik haji. "Naik haji kan bisa dilakukan kelak ketika sudah mampu," katanya.

Ayahnya seorang petani di desa Tulungagung selatan. Tapi semua saudaranya jadi sarjana –dua di antaranya menjadi guru besar. Hanya satu yang jadi dokter: Supriyanto sendiri --atas permintaan ibunya.

Setelah dua tahun bertugas di kampung halaman ia tahu banyak: kemiskinan, penyakit mereka apa saja dan budaya masyarakatnya. Karena itu ia tidak jadi pilih spesialis kandungan. Ia pilih bedah umum –yang paling diperlukan di daerah.

Di kemudian hari kariernya sampai pada jabatan direktur RSUD Tulungagung. Ia membuat sejarah: melahirkan HWW di sana.

HWW telah membuat nama Supriyanto dan Tulungagung menasional –bahkan mendunia. Proses mewujudkannya tidak mudah --sampai ada ceritanya di Disway edisi besok.(Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan