8 Tahun Dibiarkan Rusak, Jalan dan Drainase Kembang Seri Jadi Bukti Gagalnya Pemkab Bengkulu Tengah

8 Tahun Dibiarkan Rusak, Jalan dan Drainase Kembang Seri Jadi Bukti Gagalnya Pemkab Bengkulu Tengah Urus Kebutuhan Dasar Warga-Poto ilustrasi-

 

BENGKULU TENGAH – Kerusakan jalan lingkungan dan drainase di Dusun 2, Desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah, menjadi potret telanjang kegagalan pemerintah daerah dalam menjalankan kewajibannya melayani kebutuhan dasar masyarakat. Selama 7 hingga 8 tahun, fasilitas publik itu dibiarkan hancur tanpa perbaikan, sementara warga dipaksa hidup dalam ancaman banjir setiap musim hujan.

 

Ironisnya, pembiaran ini terjadi bukan dalam hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun. Drainase yang rusak total tak lagi berfungsi, membuat hujan dengan intensitas sedang selama 30 menit saja sudah cukup meluapkan air ke pemukiman warga. Jalan lingkungan pun rusak parah, memperparah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

BACA JUGA:Korupsi Izin Tambang Bengkulu Utara Terkuak Kembali, Aktor Lama Beby Hussy cs Kembali Diseret

Prenkki Oktawenda, warga Dusun 2, menyebut situasi ini sebagai bentuk kelalaian yang sulit diterima. Menurutnya, pemerintah daerah seolah memilih tutup mata meski warga terus menanggung dampak langsung dari kerusakan infrastruktur tersebut.

 

“Drainase ini sudah hancur sejak tujuh sampai delapan tahun lalu. Tidak pernah ada perbaikan. Hujan setengah jam saja, air langsung masuk rumah. Kami heran, pemerintah ke mana selama ini?” ujar Prenkki dengan nada geram.

 

Belasan kepala keluarga kini hidup dalam kecemasan permanen. Setiap awan gelap datang, warga bersiap menghadapi kemungkinan banjir. Kondisi ini menimbulkan kemarahan karena jalan dan drainase bukan proyek mewah, melainkan kebutuhan paling mendasar yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah.

 

“Kalau soal pembangunan, pemerintah sering bicara angka dan program. Tapi di lapangan, kami tidak melihat apa-apa. Jalan rusak dan drainase hancur dibiarkan begitu saja. Kami merasa benar-benar dianaktirikan,” tambah Prenkki.

 

Pembiaran selama bertahun-tahun ini memunculkan pertanyaan serius tentang efektivitas perencanaan, pengawasan, dan penggunaan anggaran infrastruktur di Kabupaten Bengkulu Tengah. Warga menilai, pemerintah lebih sibuk mengumbar janji dan pencitraan ketimbang menyelesaikan persoalan nyata yang mengancam keselamatan masyarakat.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan