Hebat, Mahasiswa Unair dan IPB Gagas Baterai EV dari Limbah Kakao

Hebat, Mahasiswa Unair dan IPB Gagas Baterai EV dari Limbah Kakao-Ist-

 

RADAR BENGKULU, SURABAYA - Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada impor komponen baterai kendaraan listrik (electric vehicle) dari luar negeri. Tentu hal itu memicu kekhawatiran akan ketahanan industri hijau di masa depan.

Seperti dikutip dari laman harian disway, masalah tersebut membuat Alvyan Ananta Asis, mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Airlangga, dan I Kadek Krisna Adi Sueta, mahasiswa S1 Institut Pertanian Bogor (IPB), mengangkat gagasan inovasi material baterai EV dari limbah organik.

BACA JUGA:Tanpa Intervensi Erick Thohir, PSSI Lakukan Seleksi Pelatih Timnas Secara Profesional

Menariknya, gagasan itu berhasil mengantarkan mereka meraih juara 3 dalam kompetisi Young Entrepeneur Day, 21 Desember 2025. Itu merupakan kompetisi bisnis inovatif yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia.

BACA JUGA:Ini Resep Nasi Goreng Kampung Rumahan dengan Cita Rasa yang Enak

"Kebanyakan baterai EV di Indonesia adalah hasil impor dari Tiongkok. Sedangkan limbah kakao di Indonesia itu sudah lumayan banyak dan tidak pernah dipakai. Padahal, senyawa di limbah kulit kakao bisa jadi anoda pada baterai EV," ujar Alvyan, menjelaskan latar belakang inovasi mereka.

Berbekal riset literatur yang mendalam, mereka membawa gagasan mengolah limbah kakao menjadi biokarbon.

Itu dimulai dari depolimerisasi. Yakni mengubah senyawa selulosa menjadi lignuselulosa. Kemudian limbah kakao yang telah dimodifikasi itu dipirolisis atau dipanaskan dalam suhu tinggi di dalam lingkungan tanpa oksigen.

Setelah unsur non-karbon pada limbah kakao hilang, tersisa kerangka karbon padat yang disebut biokarbon.

Kemudian biokarbon diproses menjadi hard carbon. Hard carbon itulah yang diposisikan sebagai anoda (kutub negatif) pada baterai EV.

Inovasi itu menghadirkan solusi komprehensif yang menyelaraskan aspek ekologi, ekonomi, dan kedaulatan nasional dalam satu terobosan strategis.

Dengan memanfaatkan limbah yang berpotensi melepas gen metana berbahaya, tim menciptakan efisiensi biaya. Mereka memanfaatkan penggunaan bahan baku lokal yang melimpah sebagai substitusi material anoda impor.

"Semoga ide brainstroming kami bisa bermanfaat buat masyarakat sekitar. Serta bisa membantu agar tak terlalu bergantung pada impor," ujar Alvyan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan