Kabarnya, John Herdman akan Latih Timnas Indonesia
Kabarnya, John Herdman akan Latih Timnas Indonesia-instagram--
RADAR BENGKULU, JAKARTA - Nama John Herdman kembali menjadi perbincangan hangat setelah muncul laporan bahwa mantan pelatih tim nasional Kanada itu akan kembali ke panggung sepak bola internasional.
Seperti dikutip dari laman disway.id, kali ini, Timnas Indonesia disebut sebagai tujuan baru John Herdman, dengan tawaran yang tidak hanya menjanjikan stabilitas, tetapi juga nilai finansial yang sulit ditolak.
Berdasarkan informasi dari jurnalis Ben Steiner, PSSI bergerak cepat untuk menunjuk Herdman sebagai pelatih kepala timnas putra Indonesia, menggantikan Patrick Kluivert.
Sedangkan faktor paling menentukan disebut berasal dari kombinasi antara durasi kontrak serta bayaran tinggi yang ditawarkan.
Gaji Besar dan Kontrak Panjang Jadi Penentu
Salah satu alasan utama John Herdman akhirnya condong memilih Timnas Indonesia adalah soal kompensasi. Ia disebut menerima gaji sekitar US$40.000 per bulan atau sekitar Rp 670 juta, angka yang membuat tawaran Indonesia lebih menggiurkan dibanding kandidat lain.
Sebelumnya, John Herdman sempat dikaitkan dengan kursi kepelatihan Jamaika, terutama setelah Steve McClaren mengundurkan diri.
BACA JUGA:Komdigi Buka Pendaftaran Calon Anggota Komisi Informasi Pusat Periode 2026–2030
BACA JUGA:Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Dapat Lampu Hijau
Walaupun berada dalam radar, opsi tersebut kalah bersaing karena proposal Indonesia dinilai lebih menarik dari sisi komitmen jangka panjang.
Mulai Bertugas 2026, Kontrak Bisa Bertahan Hingga 2030
Pelatih berusia 50 tahun itu dikabarkan akan mulai aktif menangani Indonesia pada tahun 2026, dengan skema kontrak dua tahun plus opsi perpanjangan dua tahun.
Ini artinya, pelatih berkebangsaan Inggris (UK) itu berpeluang memimpin Indonesia hingga 2030 apabila performa sesuai target.
Setidaknya, PSSI disebut ingin menjaga kontinuitas hingga akhir masa jabatan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir pada tahun 2027, sesuatu yang selama ini kerap menjadi kelemahan dalam sistem sepak bola Indonesia yang sering berganti pelatih.