Ini Jumlah Penderita Kasus HIV Bengkulu Selatan
Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Helma Boti,S.Kes--
Kasus Meningkat dan Banyak Kejadian Prostitusi
RADAR BENGKULU, MANNA - Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel darah putih (sel CD4). Sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lain. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu stadium lanjut ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah. Hingga saat ini, belum ada obat penyembuh HIV, tetapi pengobatan dengan obat antiretroviral (ARV) dapat mengendalikan virus, memperlambat perkembangannya, dan memungkinkan penderitanya untuk hidup panjang dan sehat.
Terhitung Januari sampai September tahun 2025 telah terjadi 26 kasus. Jumlah kasus ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mana pada tahun 2024 yang lalu hanya terdeteksi hanya 7 kasus.
Dari data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kesehatan terhadap kelompok masyarakat yang dinilai rentan terpapar penyakit menular tertinggal, termasuk pekerja seks, pengguna narkoba suntik, serta individu dengan perilaku berisiko tinggi.
BACA JUGA:Gandeng BI, Kaur Kendalikan Inflasi Daerah dengan Strategi 4 K
BACA JUGA:Karena Bansos, Pemdes Bisa Terancam Pidana Jika ...
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan, Didi Ruslan,S.Kes.M.Kes melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Helma Boti,S.Kes mengungkapkan memang dari data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan bahwa salah satu faktor yang diduga kuat menjadi penyebab meningkatnya penyebaran HIV di Bengkulu Selatan adalah maraknya praktik prostitusi liar yang beroperasi secara tersembunyi dan tidak terpantau oleh pihak berwenang.
“Apalagi saat ini untuk praktik prostitusi liar ini sulit kita pantau karena berlangsung di tempat-tempat tertutup dan berpindah-pindah. Hal inilah yang menyulitkan petugas dalam melakukan pengendalian dan pemeriksaan kesehatan secara rutin,tentu hal ini akan membuat penyebaran virus ini akan semakin tingg,"papar Helma saat duhubungi RADAR BENGKULU melalui telepon Sabtu (11/10).
Dengan sulitnya dijangkau oleh petugas Dinas Kesehatan, dalam pemeriksaan rutin dikarenakan lokasi terjadi prostitusi ini tidak disatu tempat. Berbeda dengan kawasan lokalisasi resmi pasti akan lebih mudah diawasi dan secara berkala mendapatkan layanan kesehatan dari pemerintah. Tetapi sampai saat ini prostitusi ilegal justru tidak ada dan tidak diperbolehkan karena kan lebih memperbesar risiko penyebaran HIV.
Apalagi,terkait prostitusi bisa terjadi minimnya pemahaman masyarakat tentang bahaya perilaku seksual berisiko juga memperburuk situasi. Dinkes mencatat, sebagian besar penularan HIV di Bengkulu Selatan terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, sementara penularan melalui jarum suntik secara bergantian tetap ada meski dalam jumlah yang lebih kecil.
"Untuk memperkecil risiko meningkatnya kasus HIV, kamipun terus mengingatkan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan tokoh agama untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV. Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi harus menjadi tanggung jawab bersama. Apalagi untuk kegiatan prostitusi ini tidak ada tempat yang legal,sehingga sulit dijangkau,"ungkap Helma.
Adapun langkah antisipasi yang diambil, Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan telah merumuskan sejumlah strategi penanganan. Diantaranya memperluas edukasi dan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS ke sekolah, tempat ibadah, dan komunitas masyarakat.
Memperkuat layanan pemeriksaan dan konseling kesehatan bagi kelompok rentan,serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengawasi praktik prostitusi ilegal yang disinyalir menjadi sumber utama penyebaran virus.
"Untuk itu kami dari Dinas Kesehatan meminta seluruh elemen untuk mengawasi serta melakukan pencegahan agar nantinya kita bisa menekan meningkatkannya kasus HIV. Kalau perlu kasus ini harus stagnan,sehingga kita hanya perlu fokus melakukan pengobatan dengan kasus yang lama. Bukan artinya kita tidak mau mengobati yang tertular,"pungkas Helma.