Pengerukan Alur Pulau Baai Macet
Pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai--
Pipa Pengerukan Bocor, Pasir Kembali ke Laut
RADAR BENGKULU – Hampir setengah tahun pengerjaan, namun hasilnya masih jauh panggang dari api. Pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai yang digadang-gadang bakal jadi pintu emas perekonomian Bengkulu, hingga kini belum juga menampakkan tanda-tanda optimal.
Harapan masyarakat dan pelaku usaha yang sempat menggunung, kini berubah jadi tanya besar: ada apa dengan pengerukan alur yang dikerjakan oleh PT Rukindo di bawah Pelindo itu?
Wakil Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Bengkulu, Edi Haryanto, dengan nada kecewa menuturkan, kedalaman alur saat ini hanya mencapai 2,9 meter. Angka itu masih sama seperti sebelum pengerukan dimulai. “Sampai hari ini, setelah Inpres berakhir, bahkan setelah Menko AHY datang langsung, kedalaman masih mentok di 2,9 meter saja,” tegas Edi,
Sejak awal, pengerukan ini disebut-sebut sebagai proyek strategis untuk mengoptimalkan fungsi Pelabuhan Pulau Baai. Idealnya, kedalaman alur berada di atas 3,5 meter agar kapal-kapal berukuran besar bisa keluar-masuk dengan leluasa. Namun kenyataannya, kapal masih kesulitan bersandar karena alur dangkal.
BACA JUGA:Baru Tahu, Ini 13 Manfaat Mengkonsumsi Ikan Dori yang TINGGI nutrisi
BACA JUGA:Dukung Perkebunan Sawit, Petani Enggano Gelar Aksi Damai di Kantor Camat
“Optimalisasi itu artinya membuat pelabuhan betul-betul bisa dilalui kapal. Tapi kalau kedalaman masih di bawah standar, ya sama saja dengan jalan buntu,” sindir Edi.
Yang lebih memprihatinkan, menurut Edi, pengerukan yang dilakukan di lapangan justru berjalan tidak wajar. Pasalnya, pipa fleksibel hose yang dipakai untuk membuang pasir hasil pengerukan ke area pembuangan mengalami kebocoran parah.
Akibatnya, pasir yang seharusnya dibuang justru kembali masuk ke alur pelabuhan. Kondisi ini membuat pengerukan terkesan hanya seremonial. “Bayangkan saja, pasir yang sudah disedot keluar, bocor di tengah, lalu balik lagi ke alur. Bagaimana mau dalam? Ini benar-benar ironis,” ujarnya.
Dengan fakta itu, kata Edi, wajar jika optimalisasi yang selama ini digaungkan hanya terdengar seperti slogan kosong.
Bagi Bengkulu, keberadaan Pelabuhan Pulau Baai bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi perdagangan. Hampir semua komoditas ekspor, mulai dari batubara, CPO, hingga hasil pertanian, ditumpukan pada pelabuhan ini.
BACA JUGA:DPRD Soroti Membengkaknya Belanja Pegawai Pemprov Bengkulu
Jika alur pelabuhan dangkal, kapal besar otomatis enggan bersandar. Akibatnya, biaya logistik melonjak karena harus menggunakan kapal berukuran lebih kecil atau melakukan bongkar muat berlapis. “Ini menyangkut kemaslahatan masyarakat Bengkulu. Kalau pelabuhan tidak optimal, ekonomi daerah ikut terhambat,” kata Edi dengan nada tegas.
INSA menilai, proyek pengerukan ini tak boleh lagi dijalankan setengah hati. Apalagi sudah ada Instruksi Presiden (Inpres) yang memerintahkan percepatan. Edi meminta Pelindo selaku pemilik tanggung jawab agar benar-benar serius dalam menuntaskan pekerjaan.